Hirarki Dalam Keluarga Kristen

Relasi antar anggota keluarga, pada dasarnya memiliki dua sisi yaitu keluarga sebagai sebuah organisasi dan keluarga sebagai ekosistem. Organisasi lebih berhubungan dengan struktur, hirarki dan birokrasi. Sedangkan ekosistem lebih berkaitan dengan penggunaan peran yang seharusnya menurut ‘kodrat’ dari setiap anggota keluarga dalam keluarga tersebut.
A. Hirarki dalam Keluarga
Harus diakui bahwa salah satu faktor pemicu yang bersifat pokok bagi timbulnya persoalan dalam rumah tangga adalah hirarki yang tidak jelas dan hirarki yang salah. Hirarki yang dimaksud adalah susunan atau struktur keluarga mengenai pemimpin dan pengambil keputusan tertinggi.

Alkitab selalu mengingatkan agar setiap keluarga memiliki hirarki yang benar, bukan hirarki yang salah. Hirarki yang salah hanya akan membuat kerancuan dan kekacauan, sebaliknya hirarki yang benar dapat membawa kejelasan dan efektivitas. Ada beberapa suasana dalam keluarga yang mencirikan suatu hirarki yang salah menurut prinsip-prinsip Alkitab.

1. Ketika suami sendiri memimpin rumah tangga, dalam hal ini memimpin istri dan anak-anaknya. Kelihatannya hal ini tidak salah, namun ada potensi dimana suami menjadi otoriter dan tidak melibatkan istri dan anak-anak dalam mengambil keputusan serta kebijakan bagi kelangsungan hidup keluarga.

2. Ketika istri sendirian memimpin keluarga atas suami dan anak-anaknya. Hal ini jelas tidak baik karena selama masih ada suami, suamilah yang menjadi kepala dalam keluarga.

3. Ketika anak menjadi pemimpin dalam keluarga. Hal ini menjadi pelanggaran yang sangat serius terhadap firman Allah. Anak tidak boleh menjadi kepala dalam keluarga.

4. Ketika mertua menjadi pemimpin dalam keluarga. Mertua dari suami – istri atau kakek – nenek dari anak-anak keluarga tersebut adalah pihak yang harus dihormati oleh keturunannya, namun mertua tidak boleh menjadi kepala dari keluarga anak dan menantunya.

5. Ketika ipar dari suami atau istri menjadi pemimpin dalam keluarga. Hal ini tidak boleh terjadi karena merupakan suatu pelanggaran yang bersifat sangat serius atas firman Tuhan.

6. Ketika pendeta menjadi pemimpin atas keluarga. Sekalipun pendeta adalah suatu sosok yang penting dan dibutuhkan oleh keluarga Kristen, namun ia tidak boleh menjadi pemimpin bagi keluarga orang lain.

B. Kedudukan Suami dalam Keluarga
Menurut Alkitab yang menjadi kepala keluarga haruslah suami – Efesus 5:22-31; Kolose 3:18-21. Sekalipun demikian, suami tidak boleh bersikap otoriter dan semena-mena. Ia harus mengasihi istri dan anak-anaknya atau seisi rumahnya. Menjadi kepala rumah tangga tidak boleh ditafsirkan secara salah. Sekalipun suami merupakan kepala, namun bukan berarti dia seorang raja atau bos. Sebagai seorang kepala, suami menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam kelangsungan hidup rumah tangga, baik yang berkaitan dengan masalah materi/ekonomi maupun yang berhubungan dengan soal kerohanian/spiritualitas.

Telah dikemukakan bahwa keluarga merupakan sebuah Gereja Kecil (a small church), di mana suami menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya atau seisi rumahnya – Ulangan 6:4-9. Suami menjadi “gembala” dan “pendeta” bagi keluarganya sendiri. Di sisi lain, oleh karena berbagai tugas, tanggung jawab dan wewenang suami, maka adalah wajar jika suami mendapatkan semacam prioritas-prioritas dalam beberapa hal dalam kehidupan keluarga, antara lain:
1. Suami menjadi juru bicara keluarga kepada pihak lain.
2. Suami yang menandatangani hal-hal yang bersifat strategis dalam kepentingan administrative.
3. Suami mendapatkan fasilitas hidup.
4. Suami mendapatkan hak untuk mengetuk palu dalam mengambil keputusan dan lain-lain hal yang sama pentingnya.

Walaupun suami mendapatkan prioritas-prioritas seperti di atas, ada hal yang patut dicamkan oleh suami, yaitu bukan berarti suami harus bertindak otoriter dan sewenang-wenang terhadap istri dan anak-anak atau seisi rumah. Suami tetap berusaha untuk melibatkan istri, berdiskusi dengan seisi rumah untuk mendapatkan keputusan yang terbaik dalam mekanisme hidup rumah tangga.

Ketika suami melibatkan istri dalam mekanisme hidup rumah tangga, tindakan ini merupakan perwujudan dari sikap suami yang mengasihi istrinya. Berkaitan dengan hal ini, rasul Paulus menulis nasehatnya yang masih relevan bagi para suami masa kini, demikian, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan nyawa-Nya baginya” – Efesus 5:25. Dalam frame ini, kasih suami kepada istri memiliki makna yaitu ada teguran, nasehat, didikan, perlindungan dan pembelaan serta pengorbanan penuh. Motif dasarnya ialah kasih dan pengorbanan Kristus bagi jemaat secara kolektif, yang di dalamnya Kristus juga mengasihi dan berkorban bagi suami. Di sisi lain, kasih suami kepada istri harus selaras dan seimbang serta sebanding dengan kasihnya kepada dirinya sendiri. Cara suami mengasihi dirinya menjadi standard utama dan terlihat ketika ia memperlakukan istrinya. Tentang hal itu, rasul Paulus menulisnya demikian, “Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuh dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuhnya” – Efesus 5:28-30. Di sinilah, rahasia terbesar bagi berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang langgeng, harmonis dan sejahtera serta diberkati oleh Tuhan.

C. Kedudukan Istri dalam Keluarga
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam banyak kelompok masyarakat, laki-laki masih dipandang sebagai ‘raja’ atau lebih tinggi level atau tingkat sosialnya jika dibandingkan dengan perempuan. Bahkan dalam kelompok yang mayoritas Kristen pun, pandangan semacam itu masih dianut. Pada hal dalam perspektif Alkitab, konsep humanis semacam itu tidak dapat diterima.

Dikatakan demikian, karena Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, tidak pernah mengajarkan dan memposisikan perempuan sebagai kelompok kelas dua (second class) dan merendahkan martabat keperempuanannya. Paradigma Alkitab, posisi perempuan tidak bersifat subordinatif. Akan tetapi dalam konsep pengajaran Alkitab, perempuan punya peran yang sangat strategis, yaitu penolong yang sepadan dengan laki-laki – Kejadian 2:18. Alkitab menempatkan perempuan dalam posisi yang terhormat, dihargai dan mulia. Perempuan diciptakan untuk melengkapi laki-laki. Perempuan ada untuk menyempurnakan peran laki-laki dalam percaturan hidup dan rumah tangga. Perempuan hadir sebagai teman pewaris dari janji-janji berkat sorgawi. Perempuan tercipta untuk bersama suami meneruskan keturunan di bumi ini.

Alkitab menegaskan bahwa Allah sangat mengasihi perempuan seperti Dia mengasihi laki-laki. Allah menebus perempuan dari dosa melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib, yang nilainya juga sama ketika Allah menebus laki-laki dari dosa. Sejatinya, Allah menghargai dan mengasihi perempuan dengan kasih yang sempurna. Berdasarkan pemahaman semacam ini, maka tidak ada alasan bagi laki-laki untuk merendahkan apalagi bertindak kejam kepada perempuan.

Posisi perempuan atau istri seperti dikemukakan di atas, tidak juga melegalkan tindakan perempuan atau istri ‘menanduk’ atau ‘menginjak’ martabat laki-laki atau suaminya. Menurut catatan Alkitab, istri harus memiliki roh ketundukan kepada kepemimpinan suami. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat Allah di Efesus berkaitan dengan sikap ketundukan istri kepada suami, menulis demikian, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isti kepada suami dalam segala sesuatu” – Efesus 5:22-23.

Berdasarkan firman Tuhan di atas, maka ada beberapa alasan kuat yang menjadi pijakan utama mengapa istri harus tunduk kepada suami, yaitu:
1. Suami adalah pemimpin (top leader) bagi istri dalam keluarga.
2. Istri tunduk kepada suami secara personal/individu/pribadi. Ini sebagai wujud dari tunduknya istri kepada Tuhan yang tidak kelihatan dan menandakan kedewasaan spiritual/rohaninya.
3. Istri memiliki contoh teladan ketundukan yang dapat diikuti, yaitu jemaat yang tunduk kepada Kristus secara kolektif, di mana di dalamnya juga terdapat istri sebagai bagian dari tubuh Kristus. Sebagaimana jemaat tunduk dan taat kepada Kristus, demikian jugalah istri tunduk dan menaati suaminya.

D. Kedudukan Anak dalam Keluarga
Yang melatarbelakangi kedudukan anak dalam keluarga ialah adanya relasi genetis dan biologis antara orang tua dengan anak. Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak membicarakan dan membahas relasi kuat antara anak dengan orang tua.

Dalam hirarki atau struktur keluarga, anak memiliki posisi yang inferior dari orang tua dan berada sepenuhnya di dalam dominasi mereka. Kendati demikian, dalam perspektif penciptaan, posisi anak dan orang tua berimbang di dalam keluarga. Artinya, di hadapan Allah orang tua maupun anak sama nilianya dan karena itulah penebusan yang dikerjakan oleh Yesus di atas kayu salib berlaku sama.

Dalam hukum Taurat, Musa mencatat secara khusus perintah Allah kepada anak-anak untuk menghormati orang tuanya dan hal yang sama dilanjutkan di dalam Perjanjian Baru – Keluaran 20:12; Ulangan 5:16; Efesus 6:1-3; Kolose 3:20. Apabila seorang anak tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah berkaitan dengan menghormati orang tua, maka anak akan menerima konsekwensi logis dari tindakannya itu, yaitu dihukum mati – Keluaran 21:17; Matius 15:4; Markus 7:10.
Di sisi lain, orang tuanya juga diperintah agar tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Artinya, orang tua memiliki kewajiban untuk selalu menghargai anaknya dengan cara konsisten menjaga sikap, kata-kata dan perbuatannya menjadi contoh serta menyenangkan hati anak-anaknya. Jangan sampai sikap, kata-kata dan perbuatan orang tua tidak mencerminkan keteladanan bagi anak-anaknya – Efesus 6:4; Kolose 3:21.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s